Sak Karepmu, Jenderal

Oleh : Yo Sugianto

Prestasi jeblok, kembali wartawan yang disalahkan. Apes benar wartawan, terutama mereka yang meliput sepakbola.

Itu yang kembali terjadi. Kali ini soal PSMS Medan yang terdegradasi dari Liga 1 ke Liga 2, bahkan remuk redam di Piala Indonesia ketika dikalahkan oleh tim kelas tiga, 757 Kepri Jaya. Keterpurukan tim kebanggaan warga Sumatra Utara itu ternyata bukan karena manajemennya, tapi salah satunya akibat wartawan.

“Introspeksi diri, evaluasi, dan perbaiki untuk ke depan. Seluruhnya harus dievaluasi. Yang pertama pemainnya, kedua suporternya,” kata Edy di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, 15 Desember 2018 lalu.

Edy pasang badan membela manajemen klub yang dimilikinya (Edy memiliki saham mayoritas di PT Kinantan Indonesia, legal PSMS Medan). “Bukan salah manajemennya. Salah pengasuhnya, termasuk wartawannya,” katanya.

Entah kenapa Edy yang pernah minta agar tidak lagi di-bully wartawan itu kembali menyalahkan kuli tinta itu. Tidak jelas juga sejak kapan wartawan menjadi pengasuh klub, atau wartawan menurut Edy itu seperti baby sitter dan PSMS Medan balita yang diasuh wartawan.

Edy Rahmayadi yang lebih suka disebut sebagai Dewan Pembina PSMS Medan itu mengaku pernah menjadi pemain sepakbola bersama mantan striker nasional, Ricky Yacobi. Ia juga membantah dirinya tidak mengetahui apa pun tentang sepak bola Indonesia.

Saat jumpa pers di Medan, 5 Desember 2018 lalu, Edy pun segera bicara tentang minimnya jumlah pesepak bola profesional di Indonesia dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. “Jumlah penduduk 250 juta berita hasil sensus tahun 2016 hanya 67.000 dan Ricky Yacobi ini masih ada di dalamnya,” katanya.

Pernah menjadi pemain sepakbola, juga mengerti minimnya pemain di Indonesia bukan berarti seseorang lalu mengerti banyak tentang dunia sepakbola secara global. Apalagi jika ia hanya sebentar saja jadi pemain, dan kini memimpin federasi olahraga yang paling popular di tanah air.

Baca Juga   Persepsi Keberpihakan yang Tak Terhindarkan

Ia tak hanya dituntut mengerti soal manajemen organisasi, tapi juga bagaimana membina hubungan baik dengan stakeholder maupun pers. Tidak jamannya lagi bersikap seperti penguasa ala Orba atau main perintah karena pernah menjadi panglima.

Keterpurukan sebuah klub, apalagi tim nasional, tentu tidak logis jika dibebankan pada diri pemain, apalagi suporter dan wartawan. Pemain hanya menjalankan instruksi, strategi yang dirancang oleh pelatih. Sebaliknya, pelatih dipilih oleh manajemen klub atau federasi.

Kronis

Konfederasi sepakbola Eropa (UEFA) saat jumpa pers di Jakarta pada Agustus 2014 sendiri menyatakan bahwa manajemen klub merupakan masalah kronis sepakbola Indonesia.

Menurut UEFA, faktor geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan tidak bisa dijadikan kambing hitam prestasi Indonesia terus jalan di tempat. Perbaikan di level manajemen klub menjadi prioritas utama.

“Perkembangan sepakbola Indonesia harus dimulai dari manajemen klub,” kata salah satu perwakilan UEFA, Alex Phillips saat itu.

Empat tahun peringatan dari UEFA itu, dan masih tampak banyak klub yang compang-camping manajemennya. Profesionalitas yang didengungkan oleh PSSI belum dijalankan sepenuhnya oleh klub.

Struktur organisasi yang memegang peran penting di klub belum terjabarkan secara riil. Peran masing-masing individu masih tidak jelas, bahkan campur aduk.

Semisal, apa peran manajer, apa peran pemandu bakat, dan lain sebagainya. Seperti di Arsenal, jelas peran Arsene Wanger sebagai orang yang paling penting di Arsenal. Ia menjadi pemegang keputusan tertinggi mulai dari taktik, porsi latihan pemain, hingga jual beli pemain.

Wenger tentu tidak sendirian, misalnya dalam menentukan pembelian pemain, pria berkebangsaan Prancis ini dibantu oleh para pemandu bakat untuk menemukan pemain bertalenta. Tidak cuma dari bisik-bisik atau dari mulut ke mulut seperti yang lazim terjadi di sini.

Baca Juga   Jalanan Sunyi bagi El Loco Gonzales

Hal berbeda terjadi di Indonesia. Tak jelas siapa manajer, siapa pelatih. Dalam beberapa kesempatan masih terlihat chairman yang bertindak sebagai manajer.

Aspek-aspek manajemen klub yang profesional seperti itulah yang perlu dipelajari, dimengerti oleh seorang Edy Rahmayadi untuk melihat sejauh mana semuanya itu telah berjalan di PSMS Medan. Kenapa kokok Ayam Kinantan harus terhenti semusim saja di Liga 1, berbeda dengan dua tim promosi lainnya yakni Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang yang tetap bertahan?

Kalau hanya pasang badan saja, dengan alasan apapun, orang hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Sama halnya ketika ia sebagai Ketua Umum PSSI mengecam Evan Dimas dan Ilham Udin tidak nasionalis, hanya gara-gara mereka teken kontrak dengan Selangor FA.

Seperti juga ketika Edy Rahmayadi yang mengatakan “wartawannya baik, maka timnasnya akan baik.” Semestinya ia menegaskan setegas-tegasnya bahwa ‘manajemen baik, maka klubnya akan baik.” Tapi ternyata ia mengkambinghitamkan pemain, suporter dan (lagi-lagi) wartawan sebagai pihak yang membuat PSMS Medan klenger dan terdegradasi ke Liga 2.

Mungkin perlu diajarkan salah satu filosofi sepakbola dari Johan Cruyff, sang legenda yakni : “Pemain yang bukan seorang pemimpin sejati adalah pemain yang selalu menyalahkan pemain lain ketika membuat kesalahan. Pemimpin sejati adalah pemain yang sudah tahu bahwa orang lain atau rekannya akan membuat kesalahan.

Tapi entah ada waktu atau tidak bagi Edy Rahmayadi untuk mengingat ucapan Cruyff itu. Rangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatra Utara, Ketua Umum PSSI dan Pembina PSMS Medan sudah membuatnya pusing.

Maka, kita hanya bisa bilang “sak karepmu, jenderal.” ***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.