Pelajaran Dari Sikap Sinis Atas Sayembara Logo Malang United

Oleh : Yo Sugianto

Isu, dalam pandangan para pakar komunikasi merupakan titik awal munculnya konfilik jika tidak dikelola dengan baik. Menurut The Issue Management Council, jika terjadi gap atau perbedaan antara harapan publik dengan kebijakan, operasional, produk atau komitmen organisasi terhadap publiknya, maka disitulah muncul isu.

Masalah tersebut tentu sangat disadari oleh semua perusahaan atau organisasi yang dengan susah payah ingin membangun atau mempertahankan reputasinya. Termasuk pada sebuah klub sepakbola, Malang United yang meski merupakan wajah baru dalam kancah persepakbolaan Indonesia tapi mampu menarik perhatian publik.

Klub yang baru saja diresmikan pada 30 Januari 2018 lalu tersebut langsung tampil menyolok di antara peserta Liga 3 yang akan bergulir tahun 2018 ini. Berbagai langkah yang telah dilakukan menampakkan besarnya ambisi serta keseriusan untuk menjadi klub tersebut melangkah lebih jauh dari saat ini.

Presiden klub Malang United FC, Djoko Purwoko dikenal sebagai pengusaha sebuah perusahaan pengembang, antara lain sejumlah vila di Bali telah digarapnya. Ia juga pernah berkiprah di beberapa klub seperti PS TNI (2015-2016) sebagai Media Officer, Manager Tim PS TNI U-21, serta sempat menjadi Wakil Manager PSMS Medan di  2017 lalu.

Besarnya ambisi Malang United itu tampak dari berbagai sensasi yang telah ditunjukkan ke publik, seperti dengan mendatangkan Indra Safrie sebagai Direktur Teknik, merekrut pelatih g asing asal Serbia, Zoran Maric yang pernah menjadi pelatih timnas U-19 Serbia pada 2012 lalu.

Malang United juga pernah mengundang Timnas Indonesia U-19 untuk uji coba di Stadion Gajayana, Malang pada 20 Juni 2017 lalu. Meski dihajar dengan skor 0-5 tapi mereka tak peduli, karena itu merupakan promosi tersendiri bagi mereka. Saat itu, konon manajemen klub menggelontorkan dana Rp 200 Juta untuk biaya akomodasi imnas U-19 hingga digelarnya uji coba itu.

Baca Juga   Sak Karepmu, Jenderal

Sensasi itu kembali berlanjut, kali ini dengan mengadakan sayembara logo yang menurut Djoko Purwoko digelar sesuai permintaan nitizen. Alasannya, logo mereka saat ini dianggap mirip dengan logo Bali United, juara II Liga 1 dan Piala Presiden.

Sayembara itu diposting pada 16 Februari 2018 di laman facebook Liga Indonesia @LindoUpdate, disertakan juga nama  nama Joko Purwoko selalu Foundation Football. Di bawahnya tertulis dengan huruf besar ‘Sayembara Desain Logo’, dilengkapi kalimat Rebranding Logo Malang United, serta Hadiah Rp 1 juta plus merchandise Malang United.

Sayangnya, bukannya apresiasi positif tapi justeru tanggapan sinis yang didapatkan dari para nitizen atas rebranding loga klub itu. Bahkan mereka memberikan desain logo yang mengundang gelak tawa.

Tak hanya, mereka pun mengirimkan komentar yang tak Cuma kocak tapi juga getir seperti dari netter Ivan Setya Gunawan: Logo nya buat nyari sponsor ratusan juta. Pembuatnya dikasi 1 juta doank ?? Hahahhha. Satu lagi Fajar Gerrard Satrio: Gilaaaaaa sekolah desain mahal mahal, buat suatu konsep, berfikir pakai otak. Eehhh di bayarnya seharga minim dp motor beat

Sedangkan dari akun bernama Ion Semesta menulis : “Ga punya modal kali bikin sayembara..hadiah 1jt…lomba mancing yg tinggal duduk aja hadiah sepeda motor baru..ini bikin logo pake otak.mkir…cuma 1jt…hadeww..malu2in orang Malang aja..”

Reaksi itu wajar saja, karena membuat logo adalah pekerjaan kreatif yang tak hanya menguras waktu tapi juga pikiran terkait dengan ide dan cita rasa seni. Hadiah tersebut juga sangat rendah jika dibandingkan dengan sayembara atau lomba membuat logo yang pernah diadakan sebelumnya.

Sebut saja Arema FC yang pernah juga mengadakan lomba logo di awal Desember 2016  dengan hadiah masing-masing Rp 1 juta untuk 5 peserta yang terpilih karyanya. Sedangkan pemenangnya mendapatkan Rp 5 juta.

Baca Juga   Jangan Sekadar Diberi Harapan Setelah Dibangunkan Dari Tidurnya

Lomba lainnya yang diadakan PT Badarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) pada tahun 2015 memberikan hadiah utama Rp 25 Juta dan 3 finalis mendapatkan @Rp 5 juta.

Sementara sebuah rumah sakit di Bandung pada 2016 yang pernah mengadakan lomba desain logo pernah memberikan hadiah dua kali lipat dari Malang United, yakni Rp 2 juta (jumlah yang sama juga diberikan untuk juara desain kartu pasien).

Hadiah Tambahan

Sayangnya reaksi manajemen klub itu tidaklah simpatik. “Iya terserah, kami awalnya kan menuruti masyarakat, sekarang malah begitu,” kata Presiden Malang United, Joko Purwoko dengan nada tinggi seperti dikutip dari Detiksport.

Setelah diserang para netizen, Malang United langsung mencabut pengumuman sayembara
dari seluruh akun media sosialnya. Meski pengumuman itu sudah dicabut, sayembara dipastikan tetap berjalan hingga batas akhir tanggal 21 Februari nanti. Alasannya untuk mendinginkan suasana.

Selain tindakan mencabut pengumuman, manajemen Malang United juga menyatakan menambah hadiah untuk pemenang sayembara logo itu. Pernyataan itu diberikan kepada Jawapos.com, yang lucunya dalam dua berita berbeda di hari yang sama (19/02/2018) justeru berbeda pula bentuk hadiahnya.

Dalam berita yang pada 19 Februari 2018 pukul 15.40 berjudul “Dikecam Terlalu Terlalu Rendah, Malang United Tambah Hadiah Lomba Logo” disebutkan Malang United akan menambah hadiah berupa mempekerjakan pemenangnya.

Sedangkan di berita tanggal yang sama pukul 22.21 disebutkan pemenang sayembara juga akan mendapatkan hadiah smartphone merek Samsung SB+ yang berharga belasan juta rupiah. Smartphone itu disebutkan juga sebagai merchandise dari klub tersebut.

Semestinya manajemen Malang United melakukan langkah yang lebih bijak dan rendah hati dengan menyatakan permintaan maafnya atas nilai hadiah sayembara itu, dan tidak bermaksud merendahkan kreativitas para desainer atau warga yang berminat. Sikap humble itu akan menuai simpati dari masyarakat ketimbang reaksi yang berlebihan, bahkan disampaikan dengan nada tinggi.

Baca Juga   Persepsi Keberpihakan yang Tak Terhindarkan

Di tengah upaya membangun merek (brand) dan reputasi sebagai klub baru yang profesional dan punya prospek bagus, manajemen Malang United harus lebih hati-hati dalam melakukan berbagai aksi korporat. Tak hanya untuk menarik simpati masyarakat (suporter) tapi juga sponsor.

Mungkin kata-kata Warren Buffer, salah satu orang terkaya di dunia ini bisa direnungkan : “Butuh 20 tahun membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya.” ***

*Yo Sugianto suka menulis puisi dan sepakbola, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.