10 Tahun Berpulangnya Endang Witarsa, Pelatih Tak Tertandingi Hingga Kini

Freekick – Endang Witarsa, nama yang mungkin asing bagi pesepakbola masa kini. Tapi sejarah mencatatnya sebagai pelatih yang tak hanya disegani dan dicintai, tapi juga tak tertandingi oleh pelatih Indonesia manapun hingga saat ini.

Lima gelar telah dipersembahkannya sebagai pelatih tim nasional. Belum lagi perannya sebagai pemain timnas yang di masanya memberi nama harum bagi Indonesia.

Meski begitu, prestasi mentereng itu belum menjadi perhatian PSSI dalam dokumentasi sejarah perjalanan organisasi itu. Buka saja website PSSI, lalu ketik nama “Endang Witarsa” atau “Liem Soen Joe”, maka kecewalah karena yang ada hanya kalimat “pencarian tidak ditemukan”.

Namun bagi mereka yang mengenalnya, baik keluarga, anak didiknya atau mereka yang melek sejarah, Endang Witarsa tak pernah terlupakan. Seperti dikatakan oleh Uden Kusuma Wijaya yang Ketua Asprov PSSI DKI Jakarta.

“Saya sungguh kagum akan keseriusan dan konsistensi beliau dalam membangun sepakbola sepanjang hidupnya,” ujarnya saat memberi sambutan pada acara peringatn wafatnya almarhum Drg.Endang Witarsa di lapangan UMS (Union Makes Strength), Petak Sinekang, Jakarta, Minggu, 6 Mei 2018.
.
Uden Kusuma yang juga perwira Polisi berpangkat Kombes ini berharap cita-cita tulus almarhum Drg Endang Witarsa tetap terjaga sampai kapanpun, dan menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat pecinta sepakbola. “Semangat beliau membangun sepak bola harus selalu jadi inspirasi dalam membangun sepak bola di Jakarta,” tambahnya.

Endang Witarsa atau Liem Soen Joe lahir di Kebumen Jawa Tengah, 16 Oktober 1916. Ketika menjadi pelatih, almarhum juga dikenal sangat disiplin dan tegas. Ia tidak suka melihat pemain yang malas dalam berlatih. Legenda sepak bola Indonesia ini meninggal di Jakarta 2 April 2008 pada usia 91 tahun.

Baca Juga   Golput Warga Mesir, Pilih Salah Jadi Presiden

Sebagai pemain, salah satu pertandingan yang tetap dikenang hingga kini adalah pertandingan persabahatan Indonesia dan Jerman Timur pada tahun 1959, Banyak orang menyangka, Jerman Timur yang merupakan tim raksasa bakal menang mudah atas Indonesia. Namun, pada laga itu Ramang memecah kebuntuan, lewat gocekan mautnya, ditambah kemudian dengan gol kedua Endang Witarsa. Laga melawan Jerman Timur berakhir dengan skor 2-2.

Sedangkan sebagai pelatih, ia juga bertangan dingin untuk menghasilkan pemain hebat. Salah satu pemain yang ditemukannya adalah Widodo C. Putro, pemain asal Banjar Patroman yang kemudian berkali-kali memperkuat Timnas Indonesia. Widodo yang berhasil mencetak gol spektakuler di ajang Piala Asia 1996 kini menjadi pelatih Bali United.

Selain itu, Endang Witarsa yang mencetak rekor MURI sebagai pelatih sepakbola terlama (55 tahun) dan pelatih tertua (90 tahun) juga sebagai pelatih yang pertama kali memperkenalkan pola 4-2-4. Pola yang berhasil membawa Indonesia menjuarai Piala Aga Khan di tahun 1966, mengalahkan Dakka Sporting Club 2-1 di final.

Pada 1972, digelar Piala Anniversary di Jakarta. Endang lagi-lagi menorehkan prestasi. Indonesia keluar sebagai juara setelah di partai final menghajar Korea Selatan 5-2.

Tak salah jika kita semua mengenang Endang Witarsa yang telah memberi kebanggaan lewat prestasi internasional. Kebanggaan yang masih coba digapai di tengah kerontangnya prestasi. ***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.