Sepakbola Wanita Harus Lebih Diseriusi Dari Segala Aspek

Sepakbola wanita saat ini menjadi salah satu fokus perhatian PSSI. Hal ini tak lepas dari ketertinggalandi tanah air, dan fokusnya FIFA maupun AFC dalam mengembangkan sepakbola wanita.

PSSI juga mengharapkan masing-masing tim Liga 1 pada tahun 2019 sudah mempunya tim putri. Bahkan harapan itu juga ditujukan pada tim Liga 2 dan 3.

“FIFA dan AFC ada 30 persen dana yang dimiliki untuk pengembangan sepak bola putri. Makanya kita juga harus siap. Kedepan tidak hanya Liga 1, namun juga Liga 2 maupun 3 yang harus memiliki tim putri,” kata Sekjen PSSI, Ratu Tisha 11 Maret 2018 lalu di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Saat ini Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah AFF U-16 Girls Championship 2018 yang berlangsung di Palembang dari tanggal 1-14 Mei 2018. Turnamen ini melibatkan 9 negara yakni Myanmar, Thailand, Laos, Filipina, Kamboja, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Indonesia.

Namun, mengembangkan sepakbola wanita tak cukup hanya dengan adanya pembentukan tim di klub-klub peserta Liga 1 atau mengadakan turnamen-turnamen. PSSI juga perlu mempersiapkan strategi komunikasi yang baik agar sepakbola wanita lebih menarik perhatian masyarakat, dunia pendidikan dan industri.

Perhelatan AFF U-16 Girls Championship di Palembang bisa menjadi cermin sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk mengembangkan sepakbola wanita di tanah air.

Dua laga yang sudah dilakoni Timnas Putri Indonesia U-16 hanya ditonton sekitar 200 orang saja, sebagian besar keluarga dari pemain. Ini tak hanya menunjukkan kurang perhatiannya masyarakat akan even itu atau sepakbola wanita sendiri.

Panitia mestinya bisa menyiasati kehadiran penonton dengan pengerahan siswa di sekolah-sekolah di Palembang. Tentu kerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bisa menjadi kunci untuk itu. Kehadiran para siswa itu juga sekaligus menjadi media promosi tentang sepakbola yang memiliki daya tarik bagi kaum remaja putri.

Baca Juga   Video Rasis, Ujian Sikap Tegas dan Profesional

Upaya lain untuk meningkatkan awareness itu melalui siaran langsung televisi, yang sayangnya tidak terjadi di even besar level ASEAN itu. Tentu mudah ditebak hal itu tak luput dari kalkulasi bisnis televisi itu sendiri, bahwa sepakbola wanita belum menjadi “jualan” yang menarik pemasang iklan.

PSSI sendiri mencobanya melalui live streaming websitenya. Sayangnya belum optimal. Seperti terjadi saat laga Indonesia menghadapi Kamboja. Kemenangan 2-0 bagi Indonesia tak bisa disaksikan secara utuh karena streaming hanya di babak pertama saja, itu pun tak ada suara. Memasuki babak kedua masyarakat tak bisa lagi menyaksikannya di web resmi PSSI.

Menyoal hal ini, manajer Timnas Putri U-16, Papat Yunisal mengakui adanya kendala itu. “Alatnya ada, tapi sempat error. Alatnya juga terbatas, selain sumber daya manusia yang mengelolanya,”ujarnya kepada Freekick baru-baru ini.

Pengembangan sepakbola wanita sudah saatnya disikapi dengan serius, salah satunya dengan tayangan langsung pertandingan di turnamen-turnamen. Kerjasama terbaru PSSI dengan mycujoo misalnya perlu dilebarkan ke even sepakbola wanita.

Jika hanya memberi porsi tayangan kepada sepakbola laki-laki seperti di Liga 1, 2 atau 3, maka sepakbola wanita akan tetap tertinggal, atau berjalan lambat. ***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.