Video Rasis, Ujian Sikap Tegas dan Profesional

VIDEO viral sejumlah awak Persija Jakarta yang sedang bermain musik, dan di situ ada kata rasis kepada Viking, suporter Persib Bandung adalah suatu kesalahan. Suatu tindakan yang dianggap sangat serius oleh PSSI, seperti disampaikan oleh Plt.Ketua Umum PSSI, Joko Driyono yang berjanji akan membawa masalah ini ke Komite Disiplin (Komdis).

Manajemen Persija mengambil respon cepat. Direktur Utama Persija, Gede Widade meminta maaf dan menyesalkan hal itu. Para pemain meminta maaf pula, menundukkan kepala sebagai penyesalan, dipimpin oleh Ismed Sofyan dan Bambang Pamungkas.

Kasus video itu harus disikapi dengan bijak dan kepala dingin. Respon cepat manajemen Persija patut diapresiasi di tengah kemarahan para suporter Persib, yang tercemin jelas di berbagai media sosial. Kesalahan sudah terjadi, tak bisa dihapus lagi. Respon cepat itu perlu ditindaklanjuti dengan sikap tegas manajemen Persija untuk memberi hukuman kepada pemain yang melontarkan kata rasis.

Soal hukuman itu akan berdampak pada skuat Persija, itu merupakan suatu resiko yang harus diambil. Kepentingan tim dan suporter harus diutamakan, meski akhirnya ada individu yang terkena sanksi karena ulahnay sendiri.

PSSI pun sudah menyatakan kekecewaannya, bahkan mengulang arti profesionalitas bagi para pelaku sepakbola, terutama pemain dan ofisial. Ini sebenarnya tak perlu disampaikan oleh pengurus PSSI karena merupakan hal standar yang harusnya sedari awal disadari para pemain. Sejak mereka menjadi pesepakbola, apalagi dikenal luas karena bergabung di sebuah klub seperti Persija atau tim lainnya di Liga 1, kehidupan mereka tak lagi seperti dulu. Publik akan menyorotinya, tak cuma media massa tapi juga masyarakat yang semakin leluasa menggunakan media sosial.

Ini menjadi pembelajaran berharga bagi semua klub, tak hanya mereka yang berkiprah di Liga 1. Kasus Iwan Setiawan yang mengumpat Pusamania, suporter Borneo FC, bisa menjadi contoh lain bagaimana mereka yang menjadi pelaku sepakbola harus arif menjaga tutur kata dan sikap.  Klub akan dihadapkan pada pilihan sulit jika kasus serupa terjadi, baik oleh pelatih atau pemain.

Baca Juga   Sepakbola Wanita Harus Lebih Diseriusi Dari Segala Aspek

Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat dan tepat, tidak bisa dibiarkan berlarut. Ini menjadi ujian tersendiri terutama bagi Persija dan PSSI. PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi juga tak luput dari situasi yang ada, dalam arti dinanti bagaimana sikapnya terhadap kasus tersebut.

Penyelesaian yang cepat itu tentu berdampak positif bagi upaya perdamaian suporter kedua klub yang dikenal sudah begitu kental, dan sedang diperjuangkan untuk adanya perdamaian.

Penanganan kasus video oknum pemain Persija ini merupakan momentum bagi PSSI dan PT LIB untuk menunjukkan bahwa mereka akan melaknakan peraturan yang ada dalam Kode Disiplin PSSI, yang baru disahkan update-nya pada 21 Maret 2018 lalu, penyempurnaan Kode Disiplin 2004.

Berbarengan dengan penanganan kasus itu, lebih elok lagi jika PSSI juga lebih mensosialisasikan Kode Disiplin itu dengan memuatnya di laman resmi organisasi tersebut, agar mudah diunduh oleh masyarakat. Sehingga nanti tak ada alasan untuk tidak mengetahui seperti apa yang tidak boleh dilakukan oleh para pelaku sepakbola.

Kasus seperti itu tak boleh terulang lagi. Para pelatih, pemain, ofisial dan mereka yang terlibat di dalam kegembiraan sepakbola akan lebih dewasa bersikap. ***

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.